Rekan

Fibriani Ratna Marita

Fibriani Ratna Marita: Dari Olahraga Air, Kini Menyelami Bisnis Sekolah Renang

Tak pernah terbayangkan sebelumnya, hobi yang sedari kecil membuatnya bahagia, ternyata mengantarkan dirinya menjadi seorang atlet berprestasi. Itulah yang dialami oleh Fibriani Ratna Marita, atlet renang berusia 26 tahun yang berasal dari Malang ini.

Mulai dari usia muda, Fibri, panggilan akrabnya, telah mencicipi laga pertandingan kejuaraan renang hingga tingkat internasional. Tepatnya Kejuaraan Renang Kelompok Umur Se-Asia Tenggara ke-31 di Singapura. Kini, Fibri tak hanya menggeluti dunia renang sebagai atlet, melainkan juga sebagai seorang trainer profesional.

Lulus SD Langsung Dipersiapkan Jadi Atlet Profesional

“Awalnya, aku itu takut banget sama air,” cerita lulusan Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Brawijaya ini. “Tapi diajak Papaku terus main air. Akhirnya keterusan. Papaku juga atlet dan pelatih renang. Jadi waktu Papaku ada privat, aku ikut dan main-main aja, sampai hari ini, jadi atlet. Waktu kelas 3 SD itu aku bilang, ‘Aku pengen jadi atlet renang!’. Mungkin karena ngeliat kakak juga sering menang lomba renang sampai Jawa-Bali.”

Melihat progres yang semakin bagus dan prestasi-prestasi yang diukirnya, di kelas 4 SD, Fibri mengikuti kejurnas pertama kalinya di Jakarta. Dari situlah, ketika lulus SD, Fibri hanya mencicipi 3 bulan bersekolah di SMP di Malang sebelum akhirnya pindah ke Jakarta untuk persiapan pelatnas.

Puluhan tahun terjun di dunia renang, bahkan sejak usia dini, Fibri mengaku tidak pernah punya ambisi besar untuk berprestasi. “Aku cuma senang olahraga ini. Ternyata aku senang, aku juara. Nggak pernah ada goal pengen pelatnas dan lain-lain. Aku cuma melakukan renang ini sebagai hobi. Lebih tepatnya aku senang racing. Ada adrenaline-nya, ada rasa pridenya ketika menang. Ketagihan di situnya. Meskipun nggak selalu menang juga, nggak apa-apa.”

Memulai Usaha di Bidang Sekolah Renang Tanpa Disengaja

Tidak pernah terpikir bagi Fibri bakal terwujud memiliki sekolah renang. Menariknya, sekolah renang yang dibangunnya ini terwujud tanpa rencana. “Memang awalnya pengen. Tapi aku masih terikat di klub sebelumnya. Lagipula waktu itu usiaku masih kecil ya, jadi cuma kepengenan aja punya sekolah renang,” ujar perempuan kelahiran 24 Februari ini. “Nah, karena ada masalah di klub sebelumnya, aku nggak terlibat lagi di sana. Padahal aku harus punya klub agar bisa bertanding di PON di bulan September 2012.”

Karena alasan itulah, Fibri dan sang Kakak, Icha, berinisiatif membuat klub kecil-kecilan yang diberi nama Amarta di tahun 2011. Namun, perjalanan masih panjang. Izin untuk menyelenggarakan sekolah renang baru didapatkan di bulan Februari 2012. “Waktu itu, muridnya cuma 7 orang dari klub yang lama,” kenang Fibri.

Meski dimulai tidak sengaja, nyatanya sekolah renangnya semakin berkembang. “Awalnya dari kelas prestasi. Kelas prestasi itu untuk persiapan pertandingan. Setelah berjalannya waktu, barulah dapat pelatih magang yang menangani kelas anak kecil. Dulu sama Papa juga. Papa yang latih kelas besar, kakakku yang latih kelas anak kecil.”

Hingga kini, usaha sekolah renang kakak-beradik ini telah memiliki beberapa kelas, dari kelas prestasi hingga untuk anak-anak yang diberi nama Amarta Kids, dan memiliki ratusan murid.

Pandemi Membuka Peluang Baru

Di masa pandemi ini, banyak usaha yang terdampak. Termasuk sekolah renang milik Fibri dan Icha. “Dulunya sebelum pandemi murid sampai ratusan. Sejak pandemi, berkurang banyak. Sekolah-sekolah juga belum aktif ‘kan.”

Menghadapi kondisi ini, dua bersaudara ini sempat pusing. Akhirnya tercetus ide untuk membuka cabang baru dari Amarta. Dari yang sebelumnya adalah Amarta Aquatic, sekarang memiliki sisterhood yang diberi nama Amarta Kids. “Sebetulnya sudah dari lama punya rencana ini. Tapi kami maju-mundur, nggak segera eksekusi. Eh, kok ada pandemi. Mau nggak mau deh, langsung kami jalankan.”

Mengajar anak-anak merupakan tantangan sekaligus kesenangan yang sendiri. “Kalau ngajar kelas prestasi ‘kan keras ya. Teriak-teriak, disiplin. Begitu mengajar kelas anak-anak, langsung berubah. Jadi lebih lembut da teorinya nggak begitu kuat, langsung praktek. Namanya juga anak-anak. Anak orang lain pula,” cerita Fibri. “Karena yang di-handle anak kecil. Di air pula. Beda dengan kegiatan di darat. Anak-anak kecil itu diminta masuk ke air aja, susahnya minta ampun. Harus diberi pengertian, dibujuk. Masuk air aja bisa takut dan teriak-teriak. Ini yang tidak diajarkan di kampus. Bagaimana meng-handle anak kecil, bonding-nya, umur sekian beda treatment-nya dengan umur sekian. Psikologisnya harus benar-benar dipahami. Mereka harus diperlakukan seperti layaknya ya anak-anak yang suka bermain.”

Banting Setir dari Atlet Menjadi Wirausaha, Belajar Banyak Hal yang Tak Pernah Terpikirkan Sebelumnya

Dengan latar belakang sebagai seorang atlet dan lulusan jurusan Ilmu Komunikasi, Fibri dan sang Kakak mengaku tidak punya bekal dunia bisnis dan management sama sekali. Tetapi, mereka menerapkan jalan word of mouth sebagai media promosi pertama kali. “Kebetulan Papaku ‘kan pelatih di beberapa sekolah swasta di Malang ‘kan. Dari situ akhirnya punya murid lagi, satu-satu. Dari orang sekitar juga sangat membantu. Selain itu, kami juga door to door menawari ke sekolah-sekolah.”

Selain itu, media sosial juga sangat membantu promosi awal Amarta. “Di tahun itu, Instagram belum seperti sekarang. Tapi kami pakai jalur fanpages Facebook dan Twitter. Bantuan beberapa teman untuk memposting juga.”

Karena ingin semakin mengembangkan usahanya, Fibri dan Icha berusaha membekali diri dengan ilmu bisnis. Berbagai pelatihan seputar bisnis diikutinya. Tetapi, pada akhirnya, Fibri menyadari bahwa semua pelatihan itu tidak ada artinya jika tidak pernah dipraktekkan langsung. “Karena kenyataan di lapangan itu berbeda. Kita belajarnya ya dari yang ada di lapangan. Learning by doing, sambil menerapkan apa yang pernah kita pelajari dari kelas-kelas itu.”

Sekarang, Fibri menjalankan Amarta tidak hanya dengan sang Kakak, melainkan juga dibantu oleh 12 pelatih dan tim yang bertugas untuk mengelola keuangan. Yang lainnya, seperti mengatur jadwal, masih dipegang oleh Fibri dan Icha. “Tetapi, meski sudah ada bantuan, kami juga menghadapi tantangan-tantangan. Apalagi kami berdua adalah orang lapangan, yang langsung tiba-tiba harus handle tim, bisnis, dan olahraga. Salah satunya adalah mengelola SDM. Contohnya untuk para pelatih. Para pelatih kami sebagian besar adalah mahasiswa. Ketika mereka sudah lulus dari sini, banyak yang akhirnya kembali ke kampung halamannya. Nah, ini jadi tugas kami untuk melatih pelatih yang baru. Begitu seterusnya. Jadi transfer ilmunya terputus-putus terus, nggak bisa benar-benar kontinyu.”

“Harapannya, apa yang kami kerjakan bisa bermanfaat bagi orang lain.”

Selain mengelola SDM, tantangan yang dihadapi oleh bisnis sekolah renang adalah membaca pangsa pasar. “Apalagi di Malang. Persaingan harga itu cukup menantang buat kami. Di sini, ketika orang menghadapi harga mahal, mereka takut. Ketika diberi harga murah, kok kebanting banget dengan fasilitasnya. Karena jasa ini beda dengan produk dan les pelajaran. Les pelajaran 2-3 bulan bisa lihat nilainya sekian, oh bagus, bagus. Tapi kalau les ekstrakurikuler seperti renang, tolok ukurnya kurang jelas. Abstrak.”

Dengan pengalaman yang telah dirajutnya selama belasan tahun sebagai atlet dan sebagai pengusaha sekolah renang, baik Fibri maupun Icha mengamini pentingnya memperluas networking sebagai bekal menjalankan usaha.

“Berkenalan dan berteman dengan banyak orang, jangan hanya dari satu profesi yang sama. Dari situ akan dapat sudut pandang yang nggak pernah terpikirkan sebelumnya. Belajar dari siapapun. Dan juga, rezeki kita bisa datang dari mana saja.”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *