Rekan

Falzuh House of Zama_1

Falzuh (House of Zama): Taklukkan Tantangan, Sukses Gaet Pasar Internasional

Ada yang pernah bilang, jika kamu bisa menjalankan hobimu sekaligus mendapatkan penghasilan dari situ, kamu adalah orang yang paling berbahagia. Pada kenyataannya, mereka yang mendapatkan penghasilan dari hobinya pun merasakan tantangan yang tak mudah. Apalagi yang mengerjakannya sendiri.

Pekerjaan di dunia kreatif yang berbasis hobi memang unik. Berpikir untuk mengasah hobi agar bisa menjadi sebuah pekerjaan yang menghasilkan uang? Simak dulu cerita pengalaman Naufal Zuhdi atau yang biasa dipanggil Falzuh, orang di balik House of Zama, fotografer yang karya-karyanya telah menjangkau pasar internasional:

Berawal dari Hobi sejak Zaman Kuliah

Falzuh tak pernah menyangka hobi fotografinya ternyata mengantarkannya ke jalan karir seperti hari ini. Awalnya, pria yang berkuliah di jurusan Teknik Kimia ini hanya iseng-iseng menjalani fotografi sebagai hobi di sela-sela kesibukan kuliahnya. Menginjak semester akhir, ia pun berpikir mengapa tidak hobi fotografinya dimonetisasi, menjadi hal yang lebih menghasilkan. Apalagi ia memang punya kebiasaan memperhatikan penampilan sehingga hal ini mempermudahnya untuk mengatur style di ranah fashion. Ia pun berencana menjadi seorang freelance photographer.

“Kemudian ada satu waktu saat konten freelance ini ternyata bisa reach sampai ke Eropa dan Amerika. Saya akkhirnya sadar bahwa ada peluang di sini. Lalu sambil jalan, mulailah ada brand lokal yang masuk juga ke personal branding-ku yang freelance ini, yang awalnya pasarnya Eropa dan Amerika,” cerita Falzuh.

Hasil karyanya bisa masuk pasar internasional pun awalnya bukan sesuatu yang diduga Falzuh. Berawal dari membuat konten asal-asalan, kemudian menargetkannya ke algoritma luar negeri. Dari situ, Falzuh belajar bagaimana algoritma dan behaviour orang luar negeri dalam mengonsumsi konten. “Kalau di Indonesia, biasanya yang layak di-endorse adalah mereka yang punya nama, punya sensualism, cantik lah ganteng lah. Sedangkan di luar polanya beda. Selama konten kita masuk ke standar mereka, itu cukup. Bodo amat namamu siapa, bodo amat followers-mu berapa. Benar-benar obyektif,” tutur Falzuh yang terinspirasi oleh Phil Knight, founder Nike ini.

“Agar kita masuk ke circle luar ya kita harus pelajari dulu bagaimana sih circle ini, gimana perilaku mereka. Aku pelajari behavior-nya. Aku mulai follow mereka, mencoba masuk ke circle mereka. Aku buat similar content dengan mereka, kujadikan benchmark. Ketika kontenku sudah kurang lebih pantas diakui, akhirnya follow-follow-an dan masuk ke circle mereka.”

Asah Ilmu dan Mindset Lewat Coaching

Karena berawal dari hobi iseng-iseng saja, Falzuh menggarap karyanya dengan prinsip eksekusi tanpa ilmu. Bagi Falzuh, cara seperti itu seperti berjalan tanpa destinasi yang akhirnya membuatnya pontang-panting tidak jelas.

Merasa ada yang harus diperbaiki dari sistem bekerjanya, Falzuh pun mengubah konsep berpikirnya agar bisa meningkatkan profesionalitasnya, “Kalau aku sendiri percaya, kita akan dapat sesuatu yang kita pantas untuk dapatkan. Misal ingin dapat 1 M , pantas ngga sih kita dapat 1 M? Kalau nggak, ya nggak akan dapet. Itu prinsip awalnya.”

Akhirnya, di tahun 2019 awal, Falzuh mengikuti one-year coaching bersama tim Zama, tim brand milik orangtuanya. Falzuh pun membentuk timnya sendiri dari lingkaran terdekatnya terlebih dahulu. Pertimbangan memilih lingkaran terdekat untuk mengawali tim adalah bonding dan trust yang sudah terbangun sehingga mereka bisa diarahkan untuk pengembangan kemampuan terlebih dahulu, bukannya materiil.

“Yang kusampaikan ke tim di awal adalah kita disini nggak fokus sama duit dulu. Karena bisnis kecil pasti susah untuk orientasi ke duit dulu ‘kan. Kalau aku sering sampaikan ke tim adalah ‘develop or die‘. Kalau kamu terus develop ya hidup. Kalau kamu ngga develop, ya mati. Satu-satunya waktu kamu tidak perlu develop adalah ya saat kamu mati,” kata Falzuh yang membuka studio pertamanya di bulan Januari 2018. “Jadi tujuan utamanya dalam sistem adalah gimana agar tim ini berkembang. Ada duitnya atau engga, tetap kamu akan berkembang sebagai output utamanya.”

Tantangan Mengelola Hobi dan Tim jadi Profesional

Menjalankan hobi adalah sesuatu yang menyenangkan. Tetapi ketika hobi tersebut berkembang menjadi pekerjaan profesional, rasa jenuh itu pasti tetap akan muncul. “Ada titik di mana performa jadi turun, kadang jadi overdeadline. Ada titik juga di mana saran dari orang tua, aku disuruh belajar bisnis. Masuklah aku ke SBC (Sinergi Business Coaching),” kenang Falzuh.

“Akhirnya belajar selama setahun. Setelah berbisnis awalnya tanpa fundamental, tanpa arah dan tujuan, akhirnya sambil jalan sambil belajar. Diajarin bahwa kalau kamu mentalnya pegawai pingin jadi pebisnis jelas nggak jadi,” Falzuh bercerita.

Di sinilah tantangannya karena mental Falzuh awalnya adalah semua hal dikerjakan sendiri. “CEO istilahnya, Chief Everything Officer. Itu terpukul banget. Mungkin masih bisa jalan sendirian, tapi ya kapasitasnya ya tetep kapasitas 1 orang. Kalau lihat variabel, yang punya nilai absolut itu ya waktu. Orang kaya miskin siapapun, waktu kan tetap 24 jam per hari,” tuturnya. “Kalau bisa bikin tim sendiri, maka nilai absolutnya untuk bisnis kita itu jadi nambah dengan faktor kalinya.

Kesulitan bekerja sendiri dirasakan Falzuh, terutama karena sulitnya mengontrol diri sendiri. Tidak ada cambuk yang memecutnya untuk bekerja disiplin.

Sekarang HOZ sudah membawahi enam orang sebagai tim yang terbagi dalam beberapa divisi, yaitu pre dan post, creator atau fotografer, editor, marketing dan administrasi, serta Falzuh sendiri sebagai director. “Kalau di HOZ itu kami sebenarnya ga ada hirarki, jadi lebih ke proses lingkaran. Mulai dari A-B-C-D-E, balik ke A lagi, begitu seterusnya. Jadi divisi-divisi ini lebih seperti lingkaran. Hirarki cuma buat formalitas saja. Teknisnya dikerjakan bareng. Makanya kami nyebutnya tim, bukan pegawai.”

Sistem yang dibangun HOZ pun tidak mengenal kata memecat tim. Jika ada tim yang kinerjanya turun, maka ia akan diistirahatkan. Ibaratnya dievaluasi dulu, berhenti, cari solusi, kemudian dibangun lagi. Prinsipsnya adalah jika ada orang yang tidak bisa, dia akan terus didevelop, bukan kemudian dibuang begitu saja.

Dengan pengalaman membangun tim dan portofolio yang memuaskan, Falzuh bercita-cita memiliki studio di beberapa kota terkenal dunia. “Itu gila sih sebenarnya, tapi aku percaya kalau kekuatan pemimpin itu ya ada pada mimpinya. Dan dia bakal punya kekuatan penuh untuk mengejar mimpinya.”

“Boleh kamu punya mimpi yang serasa ngga masuk akal, selama kamu punya langkah yang masuk akal untuk mencapainya. Selama kita tau step-nya, pasti bisa,” ujarnya mantap.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *