Rekan

Kaliwatu Group

Kaliwatu Group: Dihantam Pandemi, Bisnis Harus Bisa Bereaksi terhadap Perubahan

Pandemi akibat virus Covid-19 mengubah kehidupan manusia begitu drastisnya di tahun 2020 ini. Menyerang kesehatan, ternyata dampak Covid-19 lebih besar dari yang diperkirakan. Terutama dampaknya yang menghantam dunia bisnis pariwisata dunia.

Tak terkecuali di wilayah Batu yang terkenal dengan potensi wisatanya yang begitu besar. Karena pandemi, sumber terbesar pendapatan masyarakat yang berasal dari wisata terpaksa harus terhenti total. Ribuan pekerja terpaksa dirumahkan, tempat-tempat wisata dan kuliner ditutup karena tak ada wisatawan yang berkunjung. Dilansir dari Tempo, di bulan April lalu, tercatat sekitar 2.555 pekerja di Batu dirumahkan akibat pandemi Covid-19.

Kaliwatu Group Indonesia adalah salah satu unit bisnis yang merasakan dampak besar karena pandemi ini. Tak berhenti bergerak, bisnis yang dulunya berfokus di bidang training dan kegiatan olahraga outdoor ini, memutar otak dan berani mengambil langkah perubahan besar di tengah badai yang menerpa. Seperti yang dikisahkan oleh Anggara Jaya Wardhana, manager marketing Kaliwatu Group, berikut ini:

Banting Setir Hadapi Pandemi, Maksimalkan Kemampuan Bercocok Tanam

Ketika seluruh tempat publik di Batu harus ditutup demi mencegah penyebaran virus Covid-19, Kaliwatu sangat merasakan dampaknya. Seluruh investasi yang sedang berjalan, saat pandemi langsung terjun bebas karena tidak bisa beroperasi hingga sebulan pertama penutupan.

Namun, tim Kaliwatu tak berhenti bergerak begitu saja. Manajemen langsung merapatkan barisan dan mendiskusikan potensi apa saja yang bisa digali. Anggara bercerita, bahwa kebutuhan pokok menjadi sasaran pertama peluang yang langsung digarap demi menyelamatkan operasional bisnis. “Salah satunya kami sampai masuk ke kebutuhan pokok, yaitu penyediaan sayur. Kami yakin kebutuhan ini tidak akan berkurang meskipun sedang pandemi. Jadi kami coba untuk kondisikan dari hulu ke hilir. Mulai dari para petani, distribusi, sampai ke end-user, kami lakukan saat itu. Pada saat itu lumayan membantu lah untuk survive dulu di operasional.”

Untuk memenuhi kebutuhan pasokan sayur-mayur, Kaliwatu melibatkan para Sahabat Kaliwatu. Mereka adalah orang-orang yang terlibat selama ini membantu Kaliwatu. Para Sahabat Kaliwatu ini telah memiliki kemampuan di bidang pertanian, seperti menanam bunga, sayur, dan sebagainya, serta punya ladang.

Menurut Anggara, berpikir cepat, taktis, dan praktis sangat penting dalam kondisi terdesak seperti sekarang ini. Dari sang founder Kaliwatu Group, Pak Ro, Anggara belajar pentingnya reskill. “Reskill itu skill yang sudah kita punya di bisnis utama kita, coba tinggalkan sejenak. Lalu kita lihat peluang apa yang muncul. Lalu kita belajar lagi dari basic, belajar ulang dan kita praktekkan,” ujar pria yang juga merupakan koordinator unit Sahabat Air ini. “Di tengah ketakutan pandemi, mau gak mau kita harus tetap survive.”

Bidik Peluang Bisnis Kopi agar Bisa Bertahan Hidup

Setelah mencoba berkecimpung dalam bidang penyediaan bahan makanan, nyatanya kebutuhan operasional pun masih belum bisa tertutupi dengan baik. Kaliwatu pun menemukan peluang yang baru di bisnis kuliner, tepatnya kopi.

Mungkin belum banyak masyarakat yang tahu bahwa Batu sendiri punya potensi kopi lokal yang mulai menggeliat. Berangkat dari ide inilah Kaliwatu Cafe pun dibangun. “Kaliwatu Cafe akhirnya mendedikasikan lokasi ini, sebagai etalase petani lokal untuk menjual produk mereka. Itu komitmen kami,” tutur Anggara. “Ini menjadi menarik jika kita bisa mengambil peran untuk mengangkat kopi lokal ini.”

Tantangan Managerial dan Sumber Daya Manusia dalam Hadapi Perubahan

Mengalami kejayaan di bidang bisnis pariwisata hingga akhirnya diterpa gelombang pandemi Covid-19 yang menghantam telak, membuat Anggara dan tim Kaliwatu Group menyadari bahwa bisnis itu harus responsif. “Banyak yang menganggap bisnis mereka sebelum pandemi itu masih kokoh dan kuat terhadap pandemi ini. Mereka seringkali telat merespon, saat mereka mulai merespon, power-nya sudah habis.”

Segala sesuatu dalam badan bisnis harus kuat, terencana, adaptatif, dan antisipatif. Hal ini harus dimulai dari mindset semua lapisan, dari owner hingga karyawannya. “Yang penting adalah tim yang sudah ada. SDM yang ada itu adalah aset yang paling bernilai. Karena bisa survive itu bukan karena keputusan satu dua orang, tapi benar-benar kita sepakati semua sebagai tim. Resiko tantangan yang harus dijalani itu harus dilakukan benar-benar,” ungkap Anggara. “Jadi saat harus reskill tadi, kita harus melepas status awal. Kita ini bukan lagi instruktur, bukan lagi trainer. Tapi saat ini ya kita ini pedagang sayur, kita ini barista, kita ini waitress. Apapun yang bisa dilakukan untuk keputusan yang disepakati bersama tadi. Harus adaptif.”

Tentu bukanlah hal yang mudah agar bisa satu tujuan dan satu pemikiran, dengan banyak kepala yang terlibat dalam tim. Bagi Anggara, kejujuran adalah hal yang sangat penting yang harus diketahui oleh seluruh karyawan. Selain itu, pentingnya pemimpin yang dapat menguasai dirinya sendiri. “Leader harus bisa menyadari bahwa kondisi seperti ini tidak untuk diratapi. Harus memberi motivasi pada timnya sendiri, plus solusi juga. Karena itu adalah sebuah kewajaran baru untuk berubah dan harus dilakukan untuk bisa survive. Itu yang harus dijelaskan ke tim agar bisa dipahami bersama.”

Pentingnya Mempunyai Investasi bagi Pemilik Bisnis

Kondisi yang dialami oleh Kaliwatu Group dan banyak bisnis serupa memang tak dikehendaki siapapun. Namun, kondisi ini memberikan pelajaran kita tentang pentingnya investasi sebagai penopang.

Investment itu menjadi jaminan saat perubahan terjadi. Bisnis besar bisa survive karena punya investasi yang ketika ada apa2 mereka bisa jual aset lah istilahnya. Kemungkinan kondisi ini akan terjadi lagi itu tinggi sekali. Sebaiknya kita fokus untuk membuat kaki-kaki penopang yang beda urusan dengan bisnis utama. Seandainya bisnis utama goyang ada kaki lain yang bisa menopang,” ujar pengagum Nikola Tesla ini.

Selain investasi dalam bentuk aset, yang tak kalah pentingnya adalah investasi dalam hal SDM. “Reskill wajib dimiliki. Minimal per orang punya dua kompetensi yang berbeda. Ini untuk menjamin keberlangsungan kehidupan pribadi mereka. Kalau mereka bisa reskill, tinggal leader yang menguatkan supaya bisa menghasilkan ke perusahaan. Perusahaan bisa survive kalau orang-orang ini bisa agile dan fleksibel.”

Pandemi yang datang tanpa ada aba-aba di kehidupan manusia di tahun 2020 ini menyadarkan kita tentang banyaknya hal yang perlu disyukuri. Tak terkecuali kesehatan dan kemampuan untuk bertahan hidup. Sebagai manusia yang lemah, kita hanya bisa bersyukur dan berusaha sebaik-baiknya.

“Kita yakin di Kaliwatu bahwa hidup itu adalah seni peran. Kita yakin bahwa saat kita di posisi ini, artinya kita mengambil peran seperti apa. Setelah kita mengambil peran otomatis tugas kita adalah melakukan yang terbaik di peran itu,” tutup Anggara.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *