Rekan

Letsplay Indonesia

Letsplay Indonesia: BoardCamp, Inovasi Pembelajaran Bisnis Masa Kini

Jika bicara soal edukasi, apa yang terlintas dalam benak Anda? Seminar, kelas, workshop, atau pelatihan? Tetapi, bagaimana dengan board game alias permainan papan? Apakah menurut Anda permainan papan juga bagian dari edukasi?

Letsplay Indonesia adalah platform edukasi berbasis board game yang menggunakan metode game-based learning. Berbeda dengan metode pelatihan biasanya, dengan menggunakan permainan, latihan menentukan strategi hingga kepribadian seseorang dalam suatu kelompok bisa digali lho. Pelatihan non-konvensional ini sangat mengasyikkan dan mulai diminati oleh berbagai perusahaan dan komunitas. Seperti apa sih geliat Arif Bawono bersama Letsplay Indonesia dalam dunia edukasi modern? Yuk kita simak perbincangannya berikut ini:

Mengubah Mindset Bahwa Semua orang Adalah Heroes

Letsplay Indonesia muncul karena keresahan yang ditemukan di lapangan oleh Arif. Selama ini begitu banyak event yang diselenggarakan, termasuk juga pelatihan. Namun hanya memposisikan peserta sebagai orang yang tidak tahu dan pasif. Padahal, Arif meyakini semua peserta yang hadir pada dasarnya sudah memiliki modal. “Kami ingin menggali dan mengeluarkan itu lebih dalam dalam suatu media agar mereka mengeluarkan seluruh kemampuan dan pikirannya di dalam boardcamp. Jadi dalam boardcamp, partisipan adalah center-nya, pusat dari kegiatan. Kami yang membuat event itu mengikuti peserta, jadi sangat fleksibel. Mereka yang mengendalikan media itu, kami ikut flow-nya saja.”

Boardcamp adalah momen yang diciptakan untuk mengapresiasi para heroes, sebutan bagi peserta, sebagai seorang personal. Khususnya di bidang bisnis, di mana terkadang pemilik dan pemimpin dalam sebuah bisnis kurang bisa mengapresiasi apa yang sudah dilakukan timnya. Menurut Arif, kita semua punya peran tersendiri dalam hidup, entah itu diri sendiri, orang lain, pekerjaan, maupun perusahaan. “Maka setiap orang itu sebenarnya heroes. Cuma kadang mereka lupa kalau mereka itu heroes dalam suatu hal gitu. Kami pingin ingatkan lagi itu pada mereka. Dan mereka sudah membuktikan dengan aktifitas mereka selama boardcamp.”

Ide broadcamp ini berangkat dari konsep semua manusia membutuhkan apresiasi, entah itu berupa pujian, rasa terimakasih, dan sebagainya. Selain sebagai sarana apresiasi, broadcamp juga bisa memunculkan sifat asli seseorang ketika menghadapi suatu masalah yang harus dipecahkan. “Biasanya sisi ini adalah truly they are, aslinya mereka seperti apa. Jadi misal seseorang yang biasanya meledak-ledak, seseorang yang suka tantangan, itu kita angkat lagi sisinya di dalam boardcamp,” ujar Arif.

Berbasis Experiental-Learning, Pelatihan jadi Terasa Lebih Fun

Arif melihat bahwa pelatihan yang selama ini hanya satu arah, kurang begitu mengena karena partisipasi peserta terbatas dan potensi masing-masing tidak bisa tergali. Dengan metode experiental-learning, Letsplay Indonesia berusaha menyajikan pembelajaran yang berbeda. “Semua pembelajaran berasal dari experience dari masing-masing partisipan, kami tidak memberikan keilmuan baru, tapi kami memanggil insight yang ada dari partisipan itu sendiri yang didapatkan dari tiap aktifitas di boardcamp, baik dari aktifitas seni, dan aktifitas pembelajaran. Itu yang membedakan boardcamp dari pelatihan-pelatihan lain,” ungkap Arif.

Melalui metode experiental-learning ini, peserta Letsplay Indonesia mampu mengingat memori yang lebih panjang karena terkait dengan tiga hal, yaitu emosi, narasi, dan story. Ketiga hal ini akan membentuk engagement atau keterlibatan antar personalnya.

Tentu saja, hal ini akan berpengaruh ke kinerja dan loyalitas tim, seperti yang diungkapkan oleh Arif, “Ada suatu riset mengatakan ada perusahaan yang menerapkan gamifikasi atau engagement ke dalam timnya, itu tiap orang bisa meningkatkan kinerja hingga 127 persen lebih baik daripada yang tidak ter-engage,” kata Arif. “Kenapa kalau tim dis-engage? Kalau di perusahaan kecil mungkin tidak terlihat. Tapi kalau di perusahaan besar yang ada ribuan karyawan, terjadinya dis-engagement itu bisa fatal, karena biaya yang ditanggung oleh perusahaan karena karyawan tidak engage itu sangat mahal sekali. Misalnya pesangon, rekrutment, training, dan itu harus dilakukan berulang-ulang seiring keluar-masuknya orang baru.”

Frekuensi keluar-masuknya karyawan yang tinggi bukanlah masalah yang bisa disepelekan begitu saja. Kendati banyak orang yang membutuhkan pekerjaan dan mencari karyawan baru tampak mudah, tetapi memelihara orang-orang yang kredibel dan loyal tak kalah pentingnya. Bagi Arif, alasan keluarnya seseorang dari tim memang bermacam-macam, tetapi sebagian besar karena merasa mentok dan tidak adanya penghargaan.

“Di boardcamp kami ingin kumpulkan pihak-pihak itu semaksimal mungkin dan menciptakan momen bareng sehingga muncul engagement di akhir boardcamp. Nah, dari permainan ini, kita bisa mendapatkan output yang berbeda-beda menurut pesertanya masing-masing.”

Hingga saat ini, Letsplay Indonesia punya dua pilot project, yaitu untuk owner bisnis dan tim internal perusahaan. Testimonial dari peserta bisa dibilang memuaskan karena mereka merasa mendapatkan sesuatu yang berbeda, yang playful dan meaningful, sesuai dengan motto Letsplay Indonesia. Tantangan dan pressure yang diberikan diselesaikan dengan penuh kegembiraan. Nantinya pelajaran dari permainan yang dilakukan bisa diaplikasikan ke kehidupan sehari-hari. Inilah yang membuat metode Letsplay Indonesia lebih mengena ketimbang pelatihan konvensional biasanya.

Membuka Pintu Selebar-lebarnya untuk Partisipan

Meski tergolong baru, Letsplay Indonesia sudah banyak digunakan sebagai bagian dari upgrade skill tim di berbagai perusahaan. Permainan Letsplay Indonesia yang dibawa adalah permainan berbasis offline. Namun, dengan adanya pandemi Covid-19 yang membatasi interaksi tatap muka ini membuat Arif mulai memikirkan strategi untuk mengemas permainan secara online.

Pengemasan materi permainan ini juga nantinya diharapkan bisa bervariasi untuk mengakomodir berbagai kebutuhan partisipan sesuai tujuannya. Arif yang terinspirasi dari Eko Nugraha, seorang guru game-based learning di Ludenara ini, berharap ke depannya Letsplay Indonesia dapat dikenal orang lebih banyak lagi. “Kami ingin mengundang lebih banyak orang untuk mengelola boardcamp. Artinya temen-temen pebisnis, trainer, atau mentor, bila ingin belajar bagaimana mengelola boardcamp, itu kami dengan senang hati untuk berkolaborasi. Harapannya bisa dimanfaatkan banyak pihak dan lebih luas. Misalnya nanti ada lisensi untuk boardcamp gitu misalnya,” pungkas Arif.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *