Rekan

Mahasiswa Kewirausahaan UB: Geliat Unit Mahasiswa Dorong Semangat Wirausaha Sejak Dini

Tak perlu menunggu lulus sekolah untuk menjadi wirausaha. Saat ini, banyak anak muda yang berani ambil langkah untuk berbisnis sendiri sejak dini. Salah satunya para mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) yang tergabung dalam Mahasiswa Wirausaha UB (MW UB). Unit Kegiatan Mahasiswa yang satu ini memang memfokuskan diri kepada pengembangan dan pelatihan bisnis bagi para mahasiswa.

Lalu, seperti apa sih geliat MW UB? Yuk kita gali sedalam-dalamnya bersama Ale Raihan dan Fairly, presiden direktur dan general manager MW UB.

Wujud Nyata Wirausaha, Bukan Sekadar Keinginan Semata

Menjadi sukses dan kaya adalah keinginan semua orang. Tetapi, untuk bisa mewujudkannya bukanlah hal yang mudah. Berbisnis adalah salah satu jalannya. Namun, banyak orang yang berhenti hanya pada keinginan saja. Inilah yang menjadi fokus perhatian MW UB, seperti yang diungkapkan oleh Ale yang telah menjabat sejak bulan Januari 2020 silam, “Sebelum pengurusan kamiada perubahan fundamental di visinya. Yang awalnya mendorong atau menstimulus kewirausahaan, sekarang lebih ke mengeksekusi. Jadi sekarang lebih dituntut untuk bisa punya bisnis. Kalau sebelumnya, mau buat bisnis boleh, cuma belajar aja boleh.”

Dengan perubahan visi tersebut, maka terjadi pula perubahan pada program-program yang dirancang oleh pengurus MW UB periode 2020 ini. Jika dulunya hanya sekadar seminar, sekarang ada rangkaian kegiatan tambahan, seperti mentoring eksternal dan sesi sharing antar kelompok untuk pemecahan masalah. “Kalau dulu manfaatnya cuma dimanfaatkan di internal MW , sekarang lebih open ke seluruh mahasiswa UB juga diluar MW. Kami juga mulai kaderisasi untuk kegiatan2 kompetisi wirausaha gitu seperti yang dilaksanakan Kemendikbud atau dari Rektoratnya UB sendiri,” terang Fairly.

Belajar dari Nol untuk Menjadi Wirausahawan yang Andal

Sebagian besar wirausahawan muncul bukan dari lingkaran keluarga pebisnis. Mereka mengawalinya dengan tertatih-tatih, tanpa bekal pengetahuan bisnis sedikit pun. Tetapi, hal ini bukanlah masalah karena MW UB memfasilitasi untuk belajar, bahkan untuk mereka yang datang tanpa bekal sama sekali.

Dari data yang dikumpulkan oleh MW UB, sekitar 90 persen mahasiswa yang bergabung awalnya sama sekali belum paham. Namun output-nya selalu ada peningkatan ketika mereka selesai dari MW UB. “Kalau taun-tahun sebelumnya kira-kira masih di bawah 50% dari yg mendaftar itu saat keluar mereka sudah punya bisnis. Tapi tiap tahun selalu ada peningkatan.”

Materi yang disampaikan selama bergabung di MW UB pun bukan sekadar teoritis, melainkan juga dapat diaplikasikan langsung dan sesuai dengan studi kasus di lapangan. Apalagi menyadari bahwa tidak semua orang punya latar belakang pengetahuan marketing dan finance yang cukup. “Kebanyakan mereka butuh marketing dan finance. Apalagi mereka kan dari berbagai fakultas, biasanya lemahnya di finance. Kalau aku karena background-nya FEB (Fakultas Ekonomi dan BIsnis), mungkin sedikit banyak tau prosesnya. Tapi yg dari fakultas lain biasanya lemah di finance. Ini memang masih jadi PR bersama. Karena nggak bisa diajarkan sekali langsung bisa, harus bertahap. Kebanyakan kebutuhan mereka itu di marketing, finance, dan managemen HR,” terang Fairly.

“Biasanya karena teman-teman ini yang join kebanyakan yang belum punya bisnis, jadi mereka mintanya ilmu yang dasar gitu. Kadang ada juga tentang branding dan design juga,” sambung Ale. “Tapi kalau teman-teman yang sudah punya bisnis, itu ada forum sendiri biasanya untuk diskusi masalah HKI dan legalitas, misalnya. Jadi ada circle-circle-nya lagi gitu.”

Selain mempelajari ilmu dasar, di MW UB juga diajarkan sekaligus mempraktekkan bagaimana manajemen dalam bisnis itu dijalankan melalui berbagai divisi di dalamnya. “Kalau di MW itu sebutannya presdir itu untuk ketua, sama general manager sebagai wakilnya. Di bawah GM ini ada namanya manager masing-masing departemen,” terang Ale. “Di MW kami bagi dua. Ada struktur organisasi, ada unit bisnis. Unit bisnis ini yang mengelola kantin dan bisnis lainnya yang milik MW. Jadi ada wakilku yang mengurus unit bisnis. Kalau Fairly ini wakil untuk mengurus organisasinya. Di yang organisasi ini dibagi ada empat, yaitu manager, networking, human resources (HR), research and development (R&D), dan yang terakhir media dan komunikasi.”

Menyelaraskan Pergerakan dengan Visi Universitas Brawijaya

Universitas Brawijaya memiliki visi sebagai World Class Enterpreneurship University. Namun, eksekusinya belum sekencang yang diharapkan meski memang telah mendapatkan dukungan penuh. Di sinilah MW UB hadir untuk menggiatkan semangat wirausaha seluruh mahasiswa UB. Antara lain dengan menggelar acara Brawijaya Enterpreneur Festival atau pun memfasilitasi Program Pendanaan Kompetisi Inovasi Bisnis Mahasiswa.

Dengan adanya MW UB, diharapkan bisa menjadi penjembatan antara stakeholder-stakeholder yang potensial dengan mahasiswa UB yang punya bisnis. “Seperti dengan Badan Inovasi & Inkubasi Wirausaha UB, Badan Usaha Non-Akademik UB, BEM Fakultas yang berhubungan dengan Ekonomi kreatif gitu. Di tahun ini kami inginnya sinergi dengan mereka,” ujar Ale. “Sebelum pandemi itu kami bikin acara Brawijaya Entrepreneur Conference. Kami undang Rektorat, LSO Fakultas, Eksekutif Mahasiswa, dan lainnya kami libatkan. Kami ‘kan di MW statusnya sebagai Lembaga Unit Kegiatan Mahasiswa yang punya SDM bagus-bagus nih. Misal BIIW punya program, kami bagi peran disitu. Hubungannya baik satu sama lain, bahkan sering kolaborasi.”

Kolaborasi pun tidak hanya terbatas dengan lingkup kampus saja, melainkan juga perusahaan-perusahaan dan komunitas bisnis. “Misal ada community relation suatu perusahaan, komunitas bisnis begitu. Kami sering ada kerjasama. Kami ada contact person-nya gitu, bagian humasnya. Dari situ kami bisa jalin kerjasama. Jadi meski kita udah set proker di awal, tapi di perjalanan nggak menutup kemungkinan untuk bikin acara kerjasama juga dengan lainnya,” kata Ale yang sudah bergabung dengan MW UB ini sejak semester tiga.

Di era kreatif seperti saat ini, persaingan hidup semakin ketat. Bukan soal jumlah material yang dimiliki, tetapi semangat dan daya juang yang tinggi yang dibutuhkan generasi muda untuk bertahan hidup. “Kita bukan dituntut jadi real entrepreneur yang punya usaha gede banget gitu. Tapi kita di era ini dituntut untuk mandiri. Apalagi pandemi ini kan mengakselerasi semuanya, jadi bisa aja nanti kita akan handle, misalnya tiga pekerjaan gitu dalam satu waktu yang sama. Jadi kita itu dituntut untuk kreatif, seleksi alamnya dari kreatifitas kita nantinya,” kata Ale.

Bahkan menurut Ale, momen saat masih menjadi mahasiswa ini adalah momen yang tepat untuk belajar. “Jadi sangat disayangkan kalau ngga belajar sejak dari mahasiswa. Karena wirausaha gabisa belajar dari teori saja, jadi harus ada eksekusi yang nantinya akan dievaluasi terus menerus. Harapannya makin banyak teman-teman yang belajar tentang wirausaha,” ujarnya menutup perbincangan kali ini.

Jadi, untuk kamu para mahasiswa, siapkah kamu menjadi pribadi yang mandiri, kreatif, dan kompetitif dari sekarang? You can do it!

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *